Gelora Sukarno : Perpecahan
Salah satu sebab mengapa Sukarno ditangkap pada tahun 1930 adalah pemakaian bahasa yang keras. Sering dipakai kata revolusi atau istilah-istilah lain yang radikal. Di depan pengadilan kolonial Sukarno menjelaskan pemakaian kata-kata tersebut. Katanya nada pidato-pidatonya adalah untuk membangkitkan semangat rakyat. Sukarno menyangkal bahwa adalah tujuan PNI untuk menggulingkan Hindia Belanda dengan kekerasan. Memang PNI telah mengambil keputusan untuk menjalankan "aksi dengan perbuatan". Namun manakah cara yang dipakai aksi ini? Apakah akan dipakai "bom, bedil, dinamit! Tidak ""Kami kaum PNI memang bukan sabar, memang kami bukan orang sedang, kami bukan uler-kambang " Sukarno lalu mengutip Karl Kautsky, ".. demokrasi adalah suatu partai revolusioner, tetapi bukan suatu partai yang bikin revolusi-revolusi." PNI tidak akan memakai "bom, golok dan dinamit . yang lebih tajam. yang paling tajam yang dilihat Sukarno. Namun tak ada hakim Belanda yang percaya.
Pemakaian bahasa radikal bagi Sukarno adalah alat seorang politikus untuk menggelorakan semangat rakyat dengan mana diisi keberanian serta kepercayaan akan hari depan. Bahasa radikal pun sering digunakan kaum sosial-demokrat seperti Troelstra, Kautsky dan Jaures. Gaya kepemimpinan Sukarno ini akhirnya menyebabkan keretakan dalam kalangan pergerakan nasional, yaitu antara Sukarno di satu pihak dan Hatta serta Sjahrir di pihak lain. Kedua yang terakhir ini menekankan pembentukan kader dan kursus-kursus politik. Mereka melihat Sukarno kurang memperhatikan bidang ini.
Sebab langsung dari perpecahan dalam pergerakan adalah karena Mr. Sartono membubarkan PNI tanpa konsultasi dengan ribuan anggotanya ketika Sukarno ditangkap. Kemudian, Partai Indonesia (Partindo) dibentuk. Sedangkan Hatta dan Sjahrir mendirikan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) atau PNI-baru. Sekeluarnya Sukarno dari penjara, ia menggabungkan diri dengan Partindo.
Keretakan antara Sukarno dan Hatta-Sjahrir semakin mendalam. Tindakan sew enang-wenang Sartono dilihat sebagai hasil gaya kepemimpinan Sukarno yang menyebabkan struktur partai kurang demokratis.
Sjahrir mengatakan bahwa gaya pimpinan Sukarno ini seperti orang yang memberikan jimat-jimat kepada rakyat dan membangkitkan perang jihad. Kritik mereka adalah bahwa cara machtsvorming (penggalangan kekuatan) akan menjebloskan pemimpin pergerakan ke dalam penjara sebelum kekuatan yang sesungguhnya terwujud.
Ketika Belanda sekali lagi memukul pergerakan Hatta menulis, "Tidak ada seorang lain kecuali dia. yang membawa Partindo ke arah agitasi dan demonstrasi dan sekarang seluruh pergerakan kiri menderita di bawahnya karena itu."
Pihak Sukarno, sebaliknya, melihat bahaya pembentukan kader- kader yang ketat. Sejarah pemukulan terhadap PKI menginsyafkannya akan ini. "Kemauan" yang datang dari visi harus ditum- buhkan dengan segera di kalangan rakyat.
Bagaimanapun juga, keretakan antara tiga tokoh pergerakan tersebut kemudian berubah menjadi saling tuduh-menuduh melepaskan prinsip-prinsip perjuangannya ketika Belanda sekali lagi memukul pergerakan nasional.
Dalam tahun 1933, baik Sukarno maupun Hatta dan Sjahrir dibuang. Yang pertama ke Endeh (Flores), dan yang lain ke Digul (Irian Jaya). Apa yang sebenarnya menyebabkan perbedaan antara ketiga pemimpin ini? Mungkin, pengalaman mereka berbeda. Sukarno tidak pernah berada di luar negeri. Ia tumbuh dan beraksi sendiri. Sukarno tidak pernah dikelilingi oleh orang-orang setara dalam pertumbuhan dan dalam peran politiknya. Sedangkan Hatta dan Sjahrir melihat dan mempelajari struktur partai-partai di Belanda. Dan mereka dikelilingi kawan-kawan seperjuangan yang setingkat sejak permulaan.
Sukarno dikelilingi rekan-rekan Indonesia yang tidak memperhatikan politik atau oleh orang-orang yang jauh lebih rendah pendidikannya. Ciri khas Sukarno adalah bahwa ia selalu berdiri sendiri.
Ada faktor yang lebih penting yang menyebabkan perpecahan. Sukarno percaya pada rakyat, sedangkan Sjahrir melihat bahwa rakyat berada dalam cengkeraman feodalisme. "Setiap pemuda yang bersemangat harus melihat ke Barat..." tulisnya. Sukarno melihat bahwa dalam kebudayaan Indonesia sendiri ada motor motor yang membangun.
Bagi Sukarno pembentukan kader-kader hanya akan menimbulkan elitisme saja. Ini berarti pergerakan tanpa memperhitungkan rakyatnya Dalam Sukarno pun sering timbul keraguan mengenai rakyatnya. Dalam tahun 1933, suatu tahun yang suram, dia menulis kepada seorang teman: "... Kita tidak lain daripada menjiplak saja, untuk membuat hal-hal yang asli kita tidak mampu, belum mampu. Masih akan lama sekali sebelum pergerakan nasional akan berarti sesuatu Kepada seorang teman lain, ia mengatakan bahwa bila ia melihat kegunaan dari koperasi (kerja sama) maka ia akan kerja sama Dalam pembuangan di Flores, spirit Sukarno kelihatan masih tetap bergelora. Yang menjadi sasarannya kali ini adalah Islam.
Kepercayaan Sukarno akan rakyatnya menyebabkan ia memakai cara-cara persuasi dan mencoba meyakinkan orang. Kekerasan tidak pernah atau jarang sekali dipakainya. Sukarno melihat bahwa pranata-pranata Islam di Indonesia kolot dan orang-orangnya tidak mengenal sejarah.
Sukarno sadar bahwa semua negara Islam dalam keadaan mundur dan berada di bawah penguasaan asing. Sukarno menye rang status tinggi yang diberikan pada para sayid, sebab "tidak ada agama yang lebih menekankan persamaan daripada Islam. Sukarno melihat bahwa banyak hadis-hadis salah, yang masuk dalam ajaran Islam yang tidak ada hubungannya dengan agama, sehingga ajaran Islam dikelumuti oleh ketidaktahuan, kekolotan, tahyul, ajaran-ajaran salah dan anti rasionalisme, sedang agama adalah lebih sederhana dan rasionil daripada ajarannya ." Tahun 1938, Sukarno dipindahkan ke Bengkulu. Dengan perbuatan dan pidato-pidatonya, ia mencoba memodernkan Islam di sana. Memang, tidak banyak yang dapat diperbuat oleh pemimpin-pemimpin Indonesia.
Namun Belanda membayar politiknya dengan harga yang mahal. Ketika perang Pasifik pecah di tahun 1941, dengan mudah Jepang menduduki Hindia Belanda tanpa seorang Indonesia pun yang mengulurkan tangan untuk menolongnya secara sungguh-sungguh. Hindia Belanda lenyap tanpa kemampuan membangkitkan pendukung-pendukung yang berarti baginya.
Selanjutnya bagian iv
Sukarno : Mitos Dan Realitas (iii)
at
6:55 AM
Tags :
Masa Pergerakan Nasional
Related : Sukarno : Mitos Dan Realitas (iii)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment