Sejarah Cina-Jawa oleh Ong Hok Ham

Untuk memahami secara lengkap sejarah orang-orang Cina-Jawa, latar belakang Indonesia perlu dipertimbangkan. Kajian mengenai orang Cina-Jawa itu sendiri tak dapat dilakukan seperti yang sering dilakukan di masa lalu.
Sejarah Cina-Jawa hingga kini selalu dimulai dengan pernyataan bahwa mereka datang ke Jawa lama sebelum kedatangan orang Belanda. Kenyataan ini hanyalah suatu keingintahuan sejarah dan tidak relevan untuk pemahaman mengenai masyarakat Cina-Jawa dewasa ini. Tak satu pun keluarga Cina di Jawa yang dapat menelusuri asal-usul keluarganya lebih awal daripada akhir abad ke-18 dan hanya sedikit keluarga yang telah tua saja yang dapat melakukan hal tersebut. Kebanyakan keluarga Cina-Jawa meniti asal-usul keluarganya sampai pada pertengahan abad ke-19. Lagi pula baru pada abad ke-20-lah wanita-wanita Cina beremigrasi dari Cina. Pemukim-pemukim Cina yang paling awal harus mengawini wanita-wanita setempat dan kebanyakan dari anak-cucu mereka terserap oleh penduduk setempat. Seorang sarjana Belanda yang bernama Lekkerkerker menyatakan bahwa kira-kira 80 % dari penduduk pantai utara Jawa berdarah Cina.
Akan tetapi, akhir abad ke-18 tampaknya telah merupakan tahap yang penting dalam perkembangan masyarakat Cina-Jawa. Orang- orang Cina-Jawa mulai semakin menikah di antara mereka sendiri. Bahkan pendatang baru yang tak banyak itu berusaha mencari pasangan hidupnya di antara wanita-wanita Cina-Jawa. Singkatnya. suatu masyarakat Cina-Jawa mulai tumbuh dan mengonsolidasi dirinya. Gejala ini sangat erat berhubungan dengan perkembangan kekuasaan kolonial Belanda di Jawa. Setelah tahun 1755 (perjanjian Gianti, yang memisahkan Kerajaan Mataram menjadi tiga kerajaan kecil) Belanda menjadi kekuasaan politik yang paling dominan di Jawa.
Kolonialisme Belandalah yang mengakhiri proses asimilasi orang- orang Cina-Jawa dan yang sebaliknya memungkinkan tumbuhnya cainoritas asing yang mendominasi masyarakat Jawa. Sejarah kolonialisme Belanda di Jawa dapat dibagi ke dalam dua periode: periode pramodern dan periode modern. Jika perjanjian Gianti tahun 1755 memungkinkan perkembangannya kolonialisme Belanda yang modern, sesungguhnya hal itu baru dimulai sejak tahun 1830. Tahun 1830 dapat dianggap sebagai garis batas periode pramodern dan modern kolonialisme Belanda. Selama masa itu, perlawanan orang-orang Jawa yang terbesar (Perang Diponegoro 1825-1830) baru berakhir dan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-3) memperkenalkan sistem tanam paksa (1830-70). ,
Jadi, tulisan ini akan membuktikan bahwa sejarah orang Cina-Jawa sangat berkaitan erat dengan perkembangan kolonialisme. Untuk itu, pertama akan ditelaah evolusi dari kata "peranakan" (Indonesia/Cina) dan kemudian sejarah orang-orang Cina Jakarta sebagai model yang dapat membantu untuk melihat hubungan-hubungan( antara orang-orang Belanda dan Cina di Indonesia. Bagi periode sebelum tahun 1830, yang penting juga adalah bahwa orang-orang Cina, selain bisnis semata, juga memainkan peranan lain. Kadang- kadang mereka terlibat dalam politik yang akan juga dibahas di sini. Selama periode modern kolonialisme, perhatian juga akan dipusatkan terutama pada ekonomi orang-orang Cina-Jawa, sumber-sumber kesejahteraan mereka, dampak ekonomi mereka terhadap struktur masyarakat dan aspirasi-aspirasi seperti yang dicer- minkan dalam konflik mengenai aturan-aturan masyarakat. Akhirnya, akan dibahas pula perubahan-perubahan dan perkembangan mereka selama abad ke-20.
Peranakan
Kira-kira permulaan abad ke-18, Ong Tae-hae, seorang pelancong Cina di Jawa menulis kepada kompatriotnya:
"Bila orang-orang Cina telah berada di rantau untuk beberapa generasi tanpa kembali pulang ke tanah leluhurnya, mereka sering lupa ajaran-ajaran kebijaksanaan kita (Cina); dalam bahasa, makanan dan berpakaian, mereka meniru cara-cara penduduk pribumi; dan dalam mengkaji buku-buku asing, mereka tidak segan-segan menjadi orang Jawa dan menyebut diri mereka muslim"
Orang Belanda punya suatu istilah bagi Cina Muslim yaitu "peranakan" dan sering menggunakan istilah-istilah yang kurang enak; menyebut mereka "Cina sukuran". Pada abad ke-18, simbol utama orang-orang cina adalah kucir mereka dan orang Cina yang menjadi islam harus memotong kucirnya.  Dari sinilah timbul istilah "Cina cukuran".  Tak perlu diragukan lagi, "sesuatu" yang kurang nampak yang juga harus dipotong, akan tetapi, kucir adalah yang paling nampak.  Jelaslah Cina Islam masih dianggap asing oleh orang-orang Belanda, asing dalam arti berbeda dari Muslim lain seperti Muslim Indonesia.  Sampai 1830, orang Cina Muslim masih memiliki "Kapitan" atau kepala bagi mereka sendiri, yaitu Mohammad Jafar, yang meninggal pada tahun itu.  Sejak itu tidak ada lagi kepala baru yang ditunjuk untuk orang-orang Cina Muslim karena mereka dianggap berasimilasi dengan penduduk Islam dan karena itu tidak diperlukan kepala untuk masyarakat mereka sendiri.
Istilah "peranakan" sejak itu digunakan khusus untuk orang Cina kelahiran lokal, atau istilahnya sekarang: WNI, istilah peranakan biasanya digunakan untuk menghitung mereka yang dilahirkan dari singkeh (pendatang baru atau orang Cina yang lahir di Cina).  Karena itu, akhir abad ke-18 atau permulaan abad ke-19 dapat disebut sebagai periode yang disetujui masyarakat peranakan atau Cina-Jawa yang dapat dibedakan dari, baik penduduk lokal, maupun orang Cina yang dilahirkan.  Selama abad ke-19, sebagian besar dari pendatang baru diasimilasi ke.  dalam masyarakat peranakan dan baru akhir abad ke-19, arus kompilasi yang besar dari Cina, peranakan dan singkeh sesung- guhnya dapat dibedakan.
Sampai akhir abad ke-19, dapat disetujui bahwa para peranakan dikembalikan dari tanah asal-usul leluhurnya: Cina.  Pada saat itu komunikasi masih sulit.  Wanita tidak beremigrasi dalam jumlah yang berarti sampai digunakannya kapal uap.  Lagi pula, Dinasti Ch'ing yang mengatur Cina pada waktu itu merupakan pen- dukung yang paling tegar terhadap leluhur.  Para emigran dianggap telah membatalkan kuburan leluhurnya, berkhianat terhadap kon-fusian dan dinasti.  Pemerintah Kerajaan Cina memutuskan segala ikatan dengan Cina perantau.  Ketika duta Belanda atau Spanyol datang ke Istana di Peking dengan penjelasan dan pembelaan atau permintaan maaf atas pembelanjaan besar-besaran orang Cina pada abad ke-18, Pemerintah Cina menolak masalah tersebut dan menganggapnya tidak relevan dengan Cina.  Kembalinya orang-orang Cina per pengawasan ke Cina yang disetujui secara resmi sebagai kriminal atau penjahat dan diverifikasi atau jika tidak, diperas oleh Cina Mandarin.
Sikap resmi dari Pemerintah Kerajaan Cina demikian ini baru berakhir pada akhir abad ke-19. Selam dasawarsa terakhir abad ke-19, dinasti yang telah melemah dan terancam itu mencoba untuk memperoleh bantuan keuangan dan lainnya dari Cina perantau.
Mungkin terdapat beberapa alasan kuat bagi keluhan Ong Tae-hae mengenai para pemukim yang lama berada di luar negeri, dirusak oleh cara-cara asing dan sikap dinasti Ch'ing terhadap emigran Cina sebagai non-filial dan secara automatis sebagai penghianat terhadap Cina.
Dampak lingkungan setempat terhadap Cina-Jawa merupakan faktor utama. Kebanyakan dari mereka adalah turunan campuran Makanan mereka bersifat sangat Jawa meskipun mereka tetap mempertahankan babi dalam menu makanan mereka. Agama populer peranakan biasanya bercampur dengan corak sinkretik Islam (abangan), dunia dukun serta magis. Keluarga Cina-Jawa tidak mempergunakan bahasa Cina, biasanya mereka tak menge tahui bahasa leluhurnya setelah tiga generasi di Jawa dan diganti dengan logat asli atau bahasa daerah (ternacular), di kota-kota besar bercampur dengan bahasa Melayu dengan beberapa kata Cina. Di mata orang Belanda dan Indonesia, para peranakan dianggap sebagai orang asing dan mudah dibedakan. Mereka punya nama Cina, mereka berkucir sampai tahun 1911, mereka maksn babi dan di rumah mereka memiliki meja sembahyang untuk para leluhur. Lagi pula terdapat biara-biara Cina, di mana kadang-ka- dang saja mereka berziarah, serta terdapatnya kuburan-kuburan Cina.

Selanjutnya bagian ii

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah Cina-Jawa oleh Ong Hok Ham

0 comments:

Post a Comment