Sukarno dan Kemerdekaan
Tahun 1950, kemerdekaan Indonesia dicapai. Dari Republik Indonesia Serikat menjadi Republik Indonesia. Sukarno menjadi presiden dari pemerintahan parlementer, yaitu presiden konstitu- sional. Namun dalam batinnya sendiri,, Sukarno merasa ia adalah presiden bekas Hindia Belanda yang dicairkan dalam arti sosial politik. Irian Barat masih di tangan Belanda. Perusahaan Belanda berkuasa. Dan Indonesia adalah uni dengan Kerajaan masih Belanda. Militansi Sukarno dan pidato-pidatonya yang berkobar- kobar menggerakkan hati rakyat. Namun, kalau dalam zaman revolusi hal semacam ini demikian berguna, sekarang dianggap sebagai ancaman bagi kestabilan negara baru. Sukarno tak henti- hentinya menuntut Irian Barat dikembalikan, bubarkan Uni, nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Banyak penguasa Republik Indonesia melihat peranan Sukarno sebagai suatu ancam- an. Namun, ia adalah presiden! Perpecahan di kalangan elite Indonesia ini pada akhirnya ditandai oleh perpecahan antara Sukarno dan Hatta. Hasil pemilihan umum 1955 menambah kegawatan karena banyaknya partai. Dan hasil yang dicapai PKI semakin menambah runyamnya keadaan. Sukarno hendak mem- berikan tempat kepada PKI. Nasionalisme, Islam dan marxisme,gagasannya sebelum perang mau direalisirnya sekarang. Sebagai tekanan yang paling kuat di samping segalanya ini adalah cita-cita kemerdekaan yang belum dipenuhi, keadaan sosial dan ekonomi yang masih kacau. Semua pihak mengharapkan suatu penerobos keadaan. Kup-kup militer telah mengancam keadaan. Percobaan- percobaan pembunuhan terjadi.
Setiap pemimpin revolusi yang hidupnya berada dalam ancaman akan segera menyadari bahwa ia terkurung dalam kurun umurnve yang terbatas di dunia ini. Karena itu, Sukarno segera bertindak Dimunculkan Konsepsi Presiden yang kemudian menuntut kemba linya Undang-Undang Dasar 1945. Dan memang, ia merupakan kerangka Demokrasi Terpimpin. Sistem Demokrasi Terpimpin didasarkan pada aliansi antara partai-partai (termasuk PKI), tentara dan presiden sebagai pihak ketiga. Biarpun tindakan-tin- dakan ini serta Demokrasi Terpimpin menjamin demokrasi dan pemimpinnya diterima secara populer, namun, semuanya mengan- dung kelemahan-kelemahan dalam dirinya. Sebab, akhirnya, segala sesuatu akan tergantung dari presiden yang mempraktekkan politik perimbangan. Sedangkan seorang presiden adalah manusia yang terkukung dalam batas umur. Selama presiden masih diperki rakan mampu melanjutkan hayatnya dan masih lama menguasai keadaan, sistemnya diharapkan tetap kukuh. Akan tetapi, sekali tanda-tanda penyakit timbul, sistem Sukarno pun mulai goncang. Hal ini mungkin bisa menjelaskan ketidaktentraman Sukarno sejak tahun-tahun 1960-an. Ia mundar-mandir melakukan perjalan- an ke luar negeri, berpesta-pora. Dan Sukarno bergerak terus. Segalanya diperbuat untuk menunjukkan bahwa ia belum men- dekati akhir hayatnya dan masih sehat, penuh kesegaran hidup dan semangat. Lebih pemuda dari para pemuda. Akan tetapi, lama makin banyak orang melihat tanda-tanda ketuaan pada Sukarno yang semakin berumur. Kekuatan-kekuatan di luarnya mulai dipersatukan. Dan semuanya bersiap-siap untuk bertindak kalau-kalau akan terjadi sesuatu dengan pimpinan revolusi dan pimpinan negara. Semuanya berproses terus dan akhirnya menjadi sebab langsung kejatuhannya. Balon persatuan pecah berkeping-ke- ping dalam tahun 1965.
Sukarno sendiri insaf bahwa ia hanya seorang diri. Setelah bulan September 1965, dalam salah satu pidatonya yang masih saya ingat, Presiden Sukarno mengatakan, ".. Apa yang bisa saya buat? Dari permulaan saya dikelilingi suatu pemerintahan dimaksudkan di sini adalah "dengan suatu establishment". Elite baru Indonesia oleh Sukarno sendiri, secara bersendagurau,, sering disebutnya sebagai orang-orang yang berlaku seperti pemegang saham dalam sebuah perseroan terbatas yang namanya Republik Indonesia. Di masa puncak kekuasaan Sukarno, 1963, establish- ment ini mempunyai harpan-harapan tinggi kepada masa depan. Irian Barat sudah menjadi bagian Indonesia. Deklarasi Ekonomi (Dekon) diumumkan sebagai niat baik para pemimpin Indonesia. Dan tahap pembangunan ekonomi akan segera dimulai. Justru pada saat bangkitnya harapan, di mana mereka telah kenyang dengan visi dan kini ingin bekerja tenang, Sukarno melancarkan politik konfrontasinya dengan Malaysia. Sukarno keliru menganali- sa keadaan. Malaysia jauh lebih kuat dan kukuh daripada yang dikira Sukarno dan orang-orang di sekelilingnya. Lebih berbahaya lagi baginya, karena Sukarno tidak menyelami suasana Indonesia pada saat konfrontasi dengan Malaysia. Dalam tahun-tahun 50-an, ketika Sukarno melancarkan konfrontasi dengan Belanda menge- nai Irian Barat, saat itu memang penuh dengan kekhawatiran akan macetnya revolusi, saat bangkitnya ketakutan. Akan tetapi Indo- nesia dalam tahun 1963 penuh dengan harapan. Dan dalam masa bangkitnya harapan, establishment tidak lagi membutuhkan Sukarno. Saat bangkitnya ketakutan adalah saat yang cocok bagi Bung Karno.
Peranan Sukarno dalam sejarah Indonesia terlihat paling besar pada saat-saat adanya kemacetan. Dalam 1927, tampilnya Sukarno ke depan menolong pergerakan nasional dan memberikan arah dan arti baru padanya. Baik situasi maupun pribadinya memang paling cocok dalam keadaan-keadaan tersebut. Pada saat pembentukan negara Indonesia, sekali lagi pidato Pancasilanya memecahkan pertentangan-pertentangan antara berbagai golongan. Pada saat (1959) kehidupan politik macet karena perpecahan partai-partai dan ancaman kup di daerah-daerah, peranan Sukarno dengan konsepsi presiden berdasarkan Undang-Undang Dasar '45 sekali lagi terlihat. Pada saat itulah "aksi dengan perbuatanya" terlihat. Penyatuan Irian Barat dengan Indonesia dapat dikatakan jasanya dan hasil keuletan pendapatnya. Selain itu, tuntutan-tuntutan dan daya upayanya mengenai Irian Barat memberikan semangat bagi sebuah keadaan yang diancam dengan kepuasan diri sendiri, kemacetan dan sinisme. Bahaya-bahaya kemacetan dalam tahun- tahur. 50-an memang besar. Dan visi Sukarno mengenai Irian Barat seakan-akan memberikan semangat baru pada revolusi. Di sinilah peranan Bung Karno yang terbesar yaitu pada masa-masa adanya Establishment Republik Indonesia muncul dari masa pergeraka dan revolusi. Apakah dasar penyeleksian untuk menjadi pemimpin di antara 100 juta orang Indonesia ini? Apa latar belakang sosial pemimpin-pemimpin ini? Yang utama tentu bahwa mereka itu setuju dengan cita-cita Indonesia merdeka, berperanan dalam pergerakan dan revolusi, atau paling sedikit tercapainya Indonesia merdeka. Namun, salah satu ukuran yang menonjol dalam penyeleksian ini adalah dasar pendidikan e blishment tersebut. Kabinet-kabinet yang pernah memerintah senantiasa memiliki rasio yang tinggi dari menteri-menteri tamatan universitas atau paling sedikit HBS (sekolah menengah). Pendidik an rupanya menjadi ukuran untuk memperoleh tempat penting selama pergerakan maupun pada masa revolusi dan sesudahnya. Hal ini jauh lebih penting daripada semangat, rasa nasionalisme yang lain. Hal ini membatasi dan memberikan ciri-ciri pada pimpinan revolusi dan politik Indonesia. Orang-orang yang berpen didikan tinggi biasanya berasal dari kalangan yang sudah berstatus sosial tinggi. Sukarno merupakan bagian dari elite ini dan juga merupakan tokoh unik di dalamnya. kekhawatiran dan adanya kemacetan. tidak menentang
Penutup.
Yang demikian menyolok mengenai Sukarno adalah bahwa ia berdiri sendirian, tidak dikelilingi oleh kawan-kawan seperjuangan yang sebanding. Sukarno tidak memiliki tangan-kanan dan tangan- kiri yang terpercaya, kecuali (mungkin) pada akhir-akhir kekuasa- annya. Subandrio pun bukan alter-ego yang sebenarnya. Untuk itu, Sukarno sudah terlalu lanjut usianya. Pada akhirnya, Sukarno hanya memiliki sekutu-sekutu, fraksi-fraksi, teman atau pengikut serta para pengagum dan bukannya partner. Rencana partai pelopor masa kekuasaannya juga sudah terlambat untuk direalisir. Seperti pada awal karir politiknya, maka, dalam detik-detik ter akhir kekuasaan dan hidupnya, Sukarno berdiri lagi. Sendirian. Ada semacam keagungan melihat tokoh revolusi ini mencoba mem berikan arah kepada jalannya revolusi. Tetapi, di sana ia berdir Sekali lagi sendirian, di tengah segala arus umum menentangnyd Di mana tempat Sukarno dalam sejarah? Kita ikhlaskan saja kepa da sejarah untuk membicarakan itu. Untuk sementara, orang hanya dapat menilai peranannya.
Sukarno : Mitos Dan Realitas (v.habis)
at
7:29 AM
Tags :
Masa Pergerakan Nasional
Related : Sukarno : Mitos Dan Realitas (v.habis)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment