Peranan Sukarno dan Hatta yang bersatu kembali sudah banyak diketahui. Kritik bahwa mereka bekerja sama dengan Jepang dan mau disamakan dengan para kolaborator Jerman di Eropa, tidak tepat sebab keadaan Indonesia lain dengan negara-negara merdeka di Eropa. Sjahrir, pada waktu itu memutuskan untuk tidak ikut dalam kehidupan politik, tetapi dengan yang kemudian dikenal sebagai dwi-tunggal revolusi. Yang memecah belah tokoh-tokoh revolusi pada waktu itu bukan persoalan "kolaborasi" dwi-tunggal, tetapi cara memproklamasi- kan kemerdekaan dan cara merebut kekuasaan dari Jepang. Benedict Anderson, sejarahwan tahun pertama Revolusi Indonesia, menulis bahwa pada saat "kritis proklamasi", elite politik Jakarta dibagi dalam dua golongan. Sukarno-H atta di satu pihak, serta mereka yang disebut tokoh-tokoh politik sebelum perang dan kaum pemuda di pihak lain, yang diwakili oleh Adam Malik, Chaerul Saleh, B.M. Diah, Wikana dan làin-lain. Kaum pemuda ingin merebut kekuasaan dari Jepang dengan kekerasan. Sukarno- Hatta menunjukkan bahwa persoalannya bukan lagi Jepang yang sudah menyerah tetapi Belanda. Untuk apa menjatuhkan korban- korban dan pertumpahan darah yang sia-sia. Kekuatan tokoh politik sebelum perang ini terletak pada nama mereka atau kemampuan mereka untuk berunding dengan Jepang, Sekutu dan akhirnya Belanda. Konflik di antara kekuatan-kekuatan Revolusi Indonesia selama 5 tahun didominasi oleh masalah diplomasi dan perjuangan. Sukarno, Hatta dan kebanyakan tokoh politik yang memegang pemerintahan menjalankan diplomasi perundingan- perundingan dengan Sekutu dan Belanda sebagai strategi mereka mengadakan hubungan erat yang utama.
Pertanyaannya adalah apakah dengan demikian pimpinan nasional yaitu presiden dan kabinet-kabinetnya mengisolasi diri dari per- juangan? Terutama apakah mereka mengisolasi diri dari tenaga-te- naga revolusioner? Segera setelah Republik Indonseia diproklama- sikan, Sukarno mengadakan perjalanan; tour ke seluruh Jawa. Tidak pernah ia tinggal diam dan di mana-mana berpidato. Dan kharismanya menangkap jutaan manusia yang sekarang hanya memiliki satu harapan. Anderson menulis, "Kalau secara rasional Sukarno setuju dengan politik hati-hati yang dilakukan kabinet, maka dalam hatinya ia memahami bahwa di mana kekuasaan administratif pemerintahan sedang berada dalam keruntuhan, maka makna gambaran-gambaran dan janji-janji akan bertumbuh dan, dalam zaman kekacauan dan pembebasan, akan merupakan tata-susunan yang nyata.
Namun, Sukarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik lain adalah orang-orang sipil selama karirnya. Dengan tiba-tiba mereka ditem patkan dalam kedudukan sebagai kepala negara dengan pemerintah yang mereka idam-idamkan. Mereka mengira akan memperolehnya dengan cara lain. Kesalahan-kesalahan dibuat. Atas desakan Je pang, PETA (Pembela Tanah Air) dibubarkan pada hari-hari pertama sesudah proklamasi sedangkan PETA merupakan sat. satunya organisasi tentara dengan hirarki yang ketat. Atas dorong. pemuda-pemuda, Sukarno masih mencoba menghindarkan pembubarannya. Namun terlambat. Dan dengan demikian, peme rintah kehilangan kesempatan selama beberapa tahun untuk mengontrol tentara. Malahan, tentera sekarang tumbuh sendirian. dan tidak terorganisasi. Perwira-perwira PETA kembali ke kampung - kampung mereka dan mengorganisasi barisan perjuangan. Antara golongan-golongan perjuangan dan Sukarno tidak selalu ada hubungan mesra yang sungguh-sungguh, bahkan mungkin diliputi kecurigaan. Hal ini sendiri mungkin mempengaruhi politik- politik Sukarno selanjutnya.
Pimpinan Revolusi Indonesia tidak pernah mengembangkan strate- gi militer. Bahkan campur tangan saja pun tidak. Persoalan militer memang merupakan bagian terasing bagi Sukarno seumur hidup. Sukarno pun tidak menghasilkan anak buah yang sungguh-sungguh dapat dipercaya di kalangan militer untuk memberikan seluruh loyalitas kepadanya. Akan tetapi, sebaliknya, mungkin karena itu pengaruh politik dan ideologi Sukarno sedikit di kalangan militer. Proses perkembangan ini merupakan tragedi Revolusi Indonesia. Berlainan dengan Revolusi Indonesia, Maozedong di RR Cina dan Ho Chi Minh di Vietnam memakai militer sebagai alat revolusi dan mencampuri strategi militer kalau tidak melahirkan strateginya sendiri. Tokoh-tokoh revolusi di R RC dan Vietnam mempunyai anak buah militer seperti Jenderal Giap dan lain-lain. Dibanding kan dengan tokoh-tokoh tersebut, tidak ada satu kata pun mengenai militer maupun mengenai gerilya dalam tulisan-tulisan Sukarno. Dan inilah yang akhirnya menjatuhkannya. Dalam zaman revolusi, Sukarno tidak saja terisolasi dari soal-soal militer, tetapi ia pun merupakan orang yang sejak permulaan dikelilingi oleh suatu pemerintahan lengkap dengan birokrasinya dan partai-partai politik yang beraneka-ragam. Republik Indonesia menjadi realitas tanpa satu pun cita-cita dan ideologi Sukarno dipraktekkan. Pada permulaan memang ada rencana untuk mem bentuk partai pelopor (staatspartij) namun rencana ini ditinggalkan kan demi menghapuskan segala sesuatu yang berbau Jepang atau fasisme untuk bisa berunding dengan Belanda. Juga dalam soal diplomasi, Sukarno tidak menunjukan banyak pengaruhnya. Satu bidang lain yang rupanya juga tidak disukai Sukarno yaitu duduk di tengah-tengah meja perundingan untuk tawar-menawar. Diplo- masi diserahkan pada Sjahrir dan tokoh-tokoh yang lebih dekat dengan Hatta. Hatta sebenarnya lebih banyak mencampuri soal diplomasi dan perundingan dengan Belanda. Namun, selama tahun 1945-1950, antara Sukarno dan Hatta tidak ada persaingan atau perpecahan. Sukarno menyokong segala politik kabinet, juga dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam negeri seperti pem- berontakan Madiun, dan lain-lain. Sebaliknya, meskipun mungkin peranan Sukarno kurang dalam pemerintahan sehari-hari, namun diplomasi pribadinya menjadi identik dengan revolusi. Kharisma- nya dipakai unguk menguasai massa rakyat. Simbolik Sukarno bagi revolusi ini menyebabkan semua lapisan masyarakat Indonesia, tokoh politik, pemuda, juga militer dan sipil serta yang penting sekali dunia luar, percaya akan realitas Revolusi Indonesia.
Selanjutnya bag.v (habis)
No comments:
Post a Comment